Oleh: Adhitya Yoga Pratama*


Sejak pandemi memaksa kita belajar dari rumah. Tak pernah kita lihat anak
berseragam sekolah tawuran di pinggiran ibu kota. Pun tak kasat mata guru merazia rambut
gondrong anak didik di depan pintu gerbang. Kecuali wakil rakyat sibuk memasang baliho di
jalan arteri. Berebut tempat pemasangan iklan penerimaan peserta didik baru yang lucu-lucu.

Berita tak kalah menarik. Saat membaca koran Satpol PP bersih-bersih dinding kota
dari mural-mural yang enak dipandang. Mobil dinas wali kota parkir depan sekolah demi
efektivitas penyekatan. Anak-anak tampil senang mengikuti program vaksin yang digelar
pemerintah. Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, saya yakin menjadi pertanyaan umum
yang diajukan orang tua kepada anaknya yang wajib kita jawab bersama-sama selaku
pendidik.

Tiba-tiba saya ingat pernyataan kepala sekolah saya yang jengkel mendengar
kebijakan pembatasan sosial diperpanjang. Menurutnya, persaingan kualitas sekolah hari ini
tidak ditentukan dari gedung-gedung dan fasilitas yang dimiliki. Apalagi kejengkelan kepala
sekolah saya itu berdasar anggaran sekolah habis guna beli meja dan kursi, supaya peserta
didik dapat segera belajar di sekolah dengan pikiran tenang.

Ternyata perilaku belajar kita tak pernah berubah selama pandemi. Makin hari apa
yang kita baca di papan reklame, televisi, surat kabar, atau status WhatsApp yang dogmatis
itu belum mengubah pandangan kita tentang dunia. Tantangan ini menjadi nyata jika kita
mulai mempelajari peran penting sekolah hari ini, dibalik kebiasaan-kebiasaan menyebalkan
hasil belajar selama pandemi.

Sebut saja kebiasaan-kebiasaan menyebalkan yang berhasil dipotret Henry
Manampiring dalam buku 7 Kebiasaan Orang yang Nyebelin Banget (7 Habits of Highly
Annoying People). Henry menegaskan tidak semua dari kita bisa menjadi orang-orang yang
sangat efektif, tetapi kita semua bisa belajar menjadi orang yang tidak menyebalkan. Dan
untuk menjadi orang-orang yang tidak menyebalkan, kita perlu mengenali seperti apakah
menjadi orang yang menyebalkan.

Mungkin penegasan Henry mengingatkan kita tentang tugas-tugas pelajaran yang kita
berikan pada peserta didik. Ceramah-ceramah pelajaran yang membosankan bagi peserta
didik. Teks-teks pelajaran yang kita diktekan tanpa jeda. Layar-layar terkembang yang kita sorotkan ke mata peserta didik. Sekali lagi bukannya memahami teks, tetapi tugas peserta
didik hanya menghafal. Apa yang kita baca sepanjang jalan berupa janji-janji dan slogan-
slogan murahan politisi pun tak tersentuh kritik kita.

Sikap Kritis dalam Belajar
Lain cerita apa yang kau pelajari di sekolah hari ini jika kita merasa tertantang oleh
janji-janji dan slogan-slogan murahan para politisi itu. Terlebih dalam situasi pandemi saat
ini yang menuntut semangat, keingintahuan, dan kreativitas kita. Pelajaran yang disodorkan
sekolah mestinya mengembangkan sikap kritis dalam belajar bagi para peserta didik.

Sebagaimana Paulo Freire, seorang aktivis pendidikan asal Brasil, dus pemikir berat
pendidikan bagi kaum tertindas, menyebut siapa yang belajar adalah seorang pembaca. Lebih
dari itu, belajar merupakan pekerjaan yang cukup berat yang menuntut sikap kritis-sistematik
(systematic critical attitude) dan kemampuan intelektual yang hanya dapat diperoleh dengan
praktik langsung.

Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, tidak mungkin karena takut terhadap
perintah-perintah pejabat publik, terpesona oleh senyumnya, bersikap pasif dan menjadi
korban kebijakan pemerintah, hanya melihat sosoknya di layar kaca, atau kita sebagai
pembaca dijadikan bak ‘bejana’ yang cukup diisi dengan janji-janji dan slogan-slogan
murahan. Sehingga kita tak peka terhadap fakta yang tersembunyi dibalik peristiwa yang
dipaparkan pandemi.

Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, sebenarnya merupakan refleksi yang
mengekspresikan pergulatan kita dengan pandemi. Dan bahkan ketika pejabat publik kita
tidak begitu menaruh perhatian terhadap kenyataan yang sesungguhnya, kita tetap akan
mengekspresikan bagaimana kita berseteru dengan pandemi.

Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, kapan saja kita mempelajari sesuatu
seharusnya kita menjadi lebih akrab dengan informasi berimbang yang telah kita baca, dan
sumber terpercaya yang kita peroleh. Supaya kita selalu berpikir sesuai data yang disajikan
akibat pandemi.

Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, perilaku belajar kita sebaiknya
mengedepankan hubungan dialektis antar pengalaman pembaca, supaya refleksinya dapat
ditemukan dalam hak-hak bersama tentang dampak pandemi. Termasuk dalam hal ini tentang
praktik-praktik baik pembaca dalam menyelenggarakan proses belajar selama pandemi.

Apabila pandemi terus mengintai di sekitar kita, apa yang kau pelajari di sekolah hari
ini sadarlah perilaku belajar yang menuntut rasa rendah hati (sense of modesty). Sebab, jika
kita tidak mempunyai sikap rendah hati dan kritis, kita akan merasa bodoh terus menerus saat
dihadapkan pada kesulitan yang besar untuk memahami makna sebenarnya dari pandemi.

Kembali lagi pada pernyataan kepala sekolah saya yang menyayangkan meja dan
kursi terlanjur beli. Saya diajari kualitas sekolah tidak bisa diukur dengan mewahnya gedung
bertingkat yang meninabobokan, atau fasilitas yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu.
Sekolah kita adalah sekolah yang terus mendidik calon pemimpin bangsa yang jujur, adil dan
beradab. Sekian.