RAMADHAN DITENGAH PANDEMI COVID-19 UNTUK MEMAKSIMALKAN PENDIDIKAN ANAK

Oleh: Nasrul Harahab, S.Pd.I., M.Pd. (102020) @nasrul_harahab

Principal SMA Muh. Al Kautsar PK Kartasura, Jawa Tengah

 

Mari kita awali dengan membaca hamdalah bersama – sama atas nikmat yang telah diberikan kepada kita semua “Alhamdulillahirobbail ‘alamin” dan membaca sholawat Nabi Muhammad saw “allahumma sholli ‘ala muhammad wa’ala ali muhammad”. Kenapa sih setiap mengawali pembicaraan mesti pada mengajak untuk bersyukur?, sebab memang hanya sedikit orang yang pandai bersyukur, seperti saat ini kita diberi cobaan oleh Allah dengan adanya wabah, banyak yang mengeluh, bahkan ada yang menyalahkan Tuhannya. saya jadi ingat dengan kisah Nabi Ayyub –alaihissalam- yang diberi cobaan Allah berupa penyakit yang dengan penyakitnya itu diminta kaumnya untuk meninggalkan negerinya, dan hartanya satu persatu dicabut oleh Allah sampai anak – anaknya meninggal dunia semuanya, hingga suatu saat istrinya berkata;

“Wahai suamiku, Engkau adalah Nabi Allah, berdoalah niscaya Allah akan mengabulkan do’amu”

Kemudian Nabi Ayyub menjawab “Wahai Rahmah istriku, berapa tahun kita diberi kenikmatan hidup dengan serba kecukupan? “20 tahun suamiku” jawab istri Nabi Ayyub “kita baru diuji oleh Allah selama 18 tahun, aku malu jika harus meminta kepada Allah sebab belum sebanding dengan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita”.

Hingga suatu saat sampai Nabi Ayyub kesulitan untuk beribadah, maka Nabi Ayyub baru berdoa kepada Allah agar diangkat penyakitnya. Dan Allah mengabulkannya dan memberinya nikmat yang lebih banyak dari sebelumnya.

Nah, kita baru sebulan lebih dicoba Allah agar menjaga jarak, mengurangi berkumpul bahkan dilarang, padahal kita hidup bebas sudah bertahun–tahun, bisa kemana –mana, maka hanya orang yang sabar yang bergembira dengan hal ini sesuai dengan Firman Allah surat Al Baqarah ayat 155.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Jadi, walau daerah kita tidak seperti di Jakarta, jika tidak harus keluar maka tidak perlu keluar terlebih dahulu, beri pemahaman kepada anak – anak kita tentang hal ini dengan pendekatan dialogis (ngobrol santai, jika perlu semua anggota keluarga ada), namun jika diantara kita harus tetap bekerja keluar rumah dan bertemu banyak orang maka tetap lakukan sesuai anjuran pemerintah yaitu jaga jarak, memakai masker, membawa alat kebersihan (sabun atau handsanitizer) dan lain sebagainya, satu lagi yang penting banget sebagai warga muslim yaitu berdoa, sebab tidak ada yng terjadi di muka bumi ini bahkan hanya sekedar selembar daun yang jatuh tanpa ketentuan Allah swt. Berikut do’a yang bisa kita panjatkan.

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَق
A’UUDZU BIKALIMAATILLAAHIT-TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHOLAQ.

Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya.” (HR. Ahmad, 2:290 tentang bacaan dzikir petang dibaca tiga kali; Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih sesuai syarat Muslim. HR. Muslim, no. 2708 tentang bacaan ketika mampir di suatu tempat).

Mari kita lanjutkan bahasan selanjutnya, tentang mendidik anak – anak kita. Mendidik dengan memanfaatkan moment adalah efektif, seperti yang sedang kita alami yaitu dengan adanya wabah ini dapat dijadikan moment untuk mendidik anak – anak, baik yang berkaitan dengan wabah itu sendiri maupun pendidikan lainnya. Bahkan tidak hanya mendidik anak – anak kita namun juga mendidik istri atau suami kita, sayapun juga mendapat nasihat dari istri dan istri juga mendapat nasihat dari saya dengan adanya wabah ini; tentang motivasi menjalani program #dirumahaja (phisical distancing), mendidik anak, dan lain sebagainya.

Saya sering menyampaikan dalam seminar bahwa banyak para generasi kita yang siap menikah, artinya siap dengan pesta perkawinan, kedua keluarga merestui, saling mencintai, kemapanan ekonomi, bahkan siap memiliki anak, namun jarang yang siap untuk menjadi “guru” bagi anak – anak dan keluarganya, artinya bukan menjadi guru seperti guru di sekolah, sebab belum menjamin juga udah jadi guru disekolah bisa jadi guru dirumah.

Ada cerita, dia seorang guru yang punya dua anak, yang pertama kelas satu dan adiknya masih balita namun sudah bisa berjalan, namun hampir tiap hari tidak mampu menemani anaknya belajar, terutama belajar menjalankan rutinitas pengamalan pendidikan keIslaman seperti membaca al Qur’an namun dalam laporan keseharian anak tersebut hampir tidak pernah membaca Al Qur’an. artinya untuk menjagi guru disekoah itu cukup mudah, dan lebih rumit untuk menjadi guru dirumah? Kenapa?

Menjadi guru di sekolah lebih mudah (tapi tidak semudah yang dibayangkan ya…he) karena kita jelas ada program dan standar yang harus dikerjakan, sedangkan dirumah hampir tidak ada program, dan membangun kredibilitas seorang guru disekolah lebih mudah daripada membangun kredilitas sebagai orang tua (guru dirumah), sebab anak kita melihat segala aktivias kita sehari – hari, maka ketika kita melakukan kesalahan sedikit saja maka akan berpengaruh terhadap kepercayaan (trust) anak terhadap kita, berbeda dengan guru di sekolah, dapat diatur sedemikian rupa dan jam tatap muka juga tidak lebih lama dibanding dengan orang tua di rumah.

Bagaimana cara membangun kredibilitas orang tua? Jawabannya saya dapatkan dari bukunya Ustadz Fauzil Adhim yaitu dimulai dari berkata benar. Saya setuju dengan hal ini, bahkan ketika kita berpamitan untuk pergi bekerja tidak dianjurkan membohongi anak “eh ada tokek” ketika anak menoleh kita gas motor kita “anak menangis, bukan merasa ditinggal namun lebih dari itu, yaitu dibohongi”, berkata saja dengan benar dan jujur bahwa ayah/ ibu mau bekerja dan akan pulang jam sekian, ketika kita jujur insya Allah kita akan dirindukan kepulangan kita, namun jika kita sering membohongi anak kita, maka sesungguhnya anak telah belajar bohong dari kita; orang tuanya, dan itu akan dibawanya sampai dewasa, dan dari situlah anak mulai turun kepercayaanya (trust) kepada kita.

Kembali kepada moment dalam mendidik anak. Jadikan moment adanya anjuran #dirumahaja (karena wabah) dan akan datangnya Bulan Ramadhan untuk mendidik anak.

 

  1. Tanggungjawab

Hampir setiap hari anak – anak akan mendapatkan tugas dari sekolah, respon orang tua ada yang mengeluh dan ada yang biasa saja. Menurut saya baiknya janganlah dipandang sebagai beban, sebab apabila kita mengeluh maka boleh jadi “menular” pada anak kita, karena kita dalam mendampingi kurang antusias, maka anakpun akan mengikutinya.

Jadi kita terima saja dengan ikhlas apa yang menjadi tugas dari sekolah untuk anak kita dan kita bantu anak kita dengan semaksimal yang kita mampu. Tidak perlu menuntut diri sendiri menjadi orang tua yang sempurna. Saya kira guru disekolah akan sangat memahami keadaan kita (perintah untuk memahami masing – masing peserta didik telah ada aturan dalam bentuk Surat Edaran Meneteri Pendidikan R.I).

Selanjutnya justru kita jadikan tugas dari sekolah untuk mendidik tanggungawab diri kita dalam mendidik anak dan mendidik tanggung jawab anak kita. Jadi orang tua dan anak mendapatkan edukasi (pelajaran) yang sama – sama berharga.

Selain tugas dari sekolah untuk mendidik dan meningkatkan rasa tanggungjawab anak kita dapat ditambahkan kegiatan kemadirian untuk anak – anak kita, mulai dari menyapu lantai rumah, mencuci piring, hingga memasak. Saya masih ingat betul masa kecil dan remaja saya bahwa saya mendapat tugas menyapu waktu usia SD dan memasak waktu usia SMA, sebab ibu sudah tiada, jadi saya berbagi tugas dengan kakak saya yang masih tinggal serumah.

Tugas – tugas yang kita berikan dengan tulus dengan bermaksud mendidik rasa tanggungajwabnya adalah hal yang mulia, dan karakter inilah yang akan dibawanya sampai dewasa nanti dan akan dipakai diberbagi jenis pekerjaan apapun.

Tanggungjawab adalah berkaitan dengan amanah, tidak terkecuali seperti kita saat ini sedang mendapatkan amanah menjadi kepada keluarga dan ibu rumah tangga. Sungguh amanah yang tidak ringan, perlu disiapkan sejak dini agar kelak anak kita tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tanggungjawab baik, apalagi kita akan segera bertemu dengan bulan ramadhan, jadikan moment tersebut untuk menjadikan kita lebih baik lagi dalam hal membangun tanggungjawab dalam mendidik anak serta melatih tanggungjawab anak itu sendiri yaitu dengan melatih dan mengajak mereka berpuasa.

Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia, yang tahu hanya Allah dan diri kita masing – masing, orangtua mengajak/ memerintah anaknya untuk berpuasa atas perintah Allah, apakah dia bisa menjaga amanah itu atau tidak. Nah mumpung saat ini kita lebih banyak dirumah maka kita dapat lebih mudah dalam membantu menjaga amanah atas anak kita.

 

  1. Kedisiplinan

Seneng gak sih jika kita melihat anak – anak diluar sana yang disiplin – disiplin, baik disiplin beribadah, baca Al Qur’an, belajar bahkan disiplin dalam bermain. Saya yakin yang dalam grup ini ada yang memiliki anak demikian, namun ada diantara kita yang anaknya masih belum disiplin, bahkan makan saja harus di suruh berkali – kali. Tidak jarang kita harus meninggikan suara kita agar anak – anak kita mau menjalankan apa yang harus mereka kerjakan.

Saya jadi ingat Sabda Rasulullah saw yang mengajarkan kepada kita saat tepat dalam menasehati anak kita yaitu salah satunya dalam keadaan sakit. Saya sajikan terjemahannya agar lebih mudah dipahami; “Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi saw sakit. Nabi saw datang menjenguknya. Beliau duduk didekat kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk Islamlah engkau. “dia melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada disana, Si bapak berkata, “Turutilah Abul Qasim.” Maka, diapun masuk Islam, kemudian Nabi saw pergi sambil berdo’a, “Segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Memang hadits diatas tidak terlalu pas, namun yang ingin saya sampaikan adalah kita sedang menjalani phisical distancing sebab adanya ancaman sakit (tertular virus corona) maka moment adanya ancaman dengan keselamatan hidup adalah waktu yang tepat untuk memberi nasihat kepada anak terutama kedisiplinan dalam beribadah, agar mendapat bekal kebaikan yang cukup dan lebih dekat dengan Tuhannya.

Nah, apalagi ditambah moment bulan ramadhan maka jangan kita sia – siakan untuk mendidik anak – anak kita lebih disiplin dalam berbagai hal terutama sholat, saya tahu hal ini bukan perkara mudah, namun moment adanya anjuran #dirumahaja (karena wabah) dan corona adalah waktu yang tepat untuk lebih dekat dengan anak dan menasehati mereka.

 

  1. Kepedulian

Kepedulian ditengah zaman yang serba canggih adalah hal perkara yang mahal, masyarakat seakan – akan tidak membutuhkan orang lain, apalagi dengan kebiasaan anak – anak zaman sekarang, sebagian besar anak – anak sudah memiliki smartphone sendiri – sendiri. Apabila udah memegang ponsel canggih itu muka sudah tidak bisa menoleh kemana – mana, iya kan… anak sayapun juga demikian, anak – anak dikampung sayapun juga demikian. Duduk diperempatan sambil memegang ponselnya dan muka fokus pada layar ponsel. Seandainya didepannya dijatuhi uang 100 ribu bakal tidak diambil, karena gak lihat, hehe.

Namun anak – anak saya saya tidak saya perkenankan hak milik atas ponsel, mereka tetap memakai ponsel ayah dan ibunya. Kemudian saya jadwal yaitu setiap sabtu – ahad, selain itu tidak diperbolehkan download game yang sifatnya membunuh orang.

Moment anjuran #dirumahaja (karena wabah) dan datangnya ramadhan adalah saat yang tepat untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap sekitar, sebab waktu lebih banyak dirumah, dimulai dari hal – hal yang kecil misalnya “kak bantu ayah menyapu ya…”dan ibu juga bisa berkata “adik bantu ibu memasak”, dan bisa ke pekerjaan rumah lainnya agar anak – anak paham proses bukan pahamnya hanya sudah siap di meja makan, sudah bersih dan lain sebagainya. Mereka perlu tahu bahwa segala sesuatu perlu proses bukan instan sebab “mie instan saja perlu dimasak sebelum dimakan”, ya kan. Hehe

 

  1. Bertahan Hidup (Survivel)

Saya jadi ingat dengan kegiatan pramuka yang pernah saya ikuti yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada masa SLTA, selama empat hari saya berkemah dan selama itu pula saya tidak mandi, hehe. kemah empat hari tersebut ada atu hari dimana saya dan teman – teman dilepas ditengah hutan, tidak mendapat jatah bekal apapun kecuali pakaian yang melekat dan pengetahuan tentang survivel (bertahan hidup). Saat itulah saya benar – benar belajar bertahan hidup agar tetap bisa makan dengan mengandalkan sumber daya alam yang ada di hutan.

Saya kira cukup pas pada kesempatan kali ini mendidik anak kita tentang survivel (bertahan hidup). Tidak sedikit yang terdampak dengan adanya wabah ini, pemasukan berkurang namun pengeluaran sepertinya agak naik, sebab seluruh anggota keluarga berada dirumah, otomatis makanan yang perlu disajikan bertambah, ada juga yang sampai curhat bahwa semasa #dirumahaja anak –anaknya ada yang makan empat sampai lima kali.

Pekan kedua selama kebijakan #dirumahaja saya berkesempatan menjelaskan kepada anak – anak saya tentang survivel (bertahan hidup), bahwa kondisi sekarang ini kita sedang diuji oleh Allah dengan sedikit rasa takut dan rasa lapar, banyak yang kehilangan pekerjaan, penghasilan menurun, sehingga kebutuhan sehari – hari harus hemat.

Saya ceritakan kepada anak – anak saya juga bahwa saat masa kecil ayah pernah makan nasi sama garam saja karena mahalnya makanan pada tahun 90-an, maklum hidup di desa dan pegunungan, hehe. Dan semasa kuliah pernah juga hanya minum air putih untuk mengganjal perut karena kehabisan bekal. Sengaja saya ceritakan agar mereka memahami makna survivel (bertahan hidup) dan merangsang empatinya serta menancapkan nilai bahwa hidup tidak selamanya mudah.

Lebih pas lagi dengan sebentar lagi kita masuk bulan ramadhan, bahwa puasa selain menjalankan perintah Allah swt dengan pahala yang luar biasa adalah bisa dimaknai belajar survivel (bertahan hidup) yaitu dengan merasakan rasa lapar.

 

  1. Kreativitas

Kreatif adalah penting. Banyak yang memaknai kreatif adalah hanya urusan dalam bidang seni, namun menurut saya kreatif masuk di semua lini kehidupan. Ya, semua butuh kreatifitas baik untuk memecahkan masalah maupun mengembangkan sesuatu. Kreatifitas seseorang bukanlah lahir secara tiba- tiba, namun perlu usaha yang serius. Mumpung hari – hari ini kita banyak waktu bersama anak sangat tepat untuk digunakan mengasah kreatifitas mereka, intinya bukan seberapa keren hasil karya yang dibuat anak kita, namun sejatinya kita mengajari cara berfikir kreatif, merangsang otak agar terbisa berfikir kreatif.

Apalagi saat ramadhan nanti, agar anak – anak tidak terlalu memikirkan puasanya maka perlu ada kegiatan untuk merangsang kreatifitas anak; membuat mainan mesin minuman otomatis dari botol bekas atau kardus, membuat mainan mesin ATM dari kertas tebal, melukis berbahan pasir, menaman, membaca buku, membuat kreasi berbagai bentuk dari tanah liat, plastisin dan juga dari koleksi lego anak. Sekali lagi, bukan konsentrasi pada hasil karyanya, namun membiasakan anak berfikir bagaimana cara membuatnya, mengukur, memadukan warna, keseimbangan, keindahan, kemudahan dan lainya.

 

  1. Kesabaran

Menulis tentang kesabaran adalah hal terberat yang saya lakukan, sebab menjadi insan sabar bukanlah perkara mudah, apalagi saat kita diberi nikmat seperti sekarang ini yang berupa musibah. Tapi jika kira pikir – pikir dengan seksama musibah ini benar – benar mengajarkan kepada kita banyak hal terutama “memaksa” kita untuk belajar lebih bersabar lagi.

Biasanya antara jam 06.00 – 14.00 atau bahkan ada yang sampai 16.00 WIB orang tua tidak bertemu dengan anak dan atau anak tidak bertemu orang tua, sebab mereka sekolah dan orang tua bekerja. Kali ini berbeda, sudah hampir dua bulan kita lebih banyak bertemu mereka, bahkan harus menjadi guru bagi mereka sehari – hari, sungguh bukan hal yang mudah. Belum lagi dengan ulah mereka yang banyak, berebut mainan dengan kakak atau adiknya, yang remaja berebut tontonan TV, ponsel dan lain sebagainya, tidak jarang hal itu membuat orang tua tekanan darahnya naik, hehe.

Jika itu terjadi, percayalah itu hal manusiawi, akan tetapi sifat manusia itu dapat diubah pelan – pelan dengan cara pahamilah kondisi sekarang (adanya wabah) secara mendalam – kenapa Allah menurunkan wabah ini kepada kita ya, boleh jadi memang ini yang terbaik bagi kita-, seperti firmah Allah surat Al Baqarah ayat 216 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi kamu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”.  – Berat sekali ya Allah, membuat sesak dada kami -, namun Allah telah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Maka mari belajar tetap bersabar dan optimis bahwa setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan.

 

  1. Bersyukur

Sudah saya bahas di pendahuluan diatas ya. Saya tambahkan saja, moment #dirumahaja (karena adanya wabah) yang banyak memberikan kita pendidikan, menambah amalan ibadahnya, menambah rasa syukurnya, namun ada sedikit kehawatiran bahwa akankah kita setelah dunia kembali seperti sedia kala akan tetap seperti ini volume ibadah kita. Saya juga tidak dapat menjamin diri saya pribadi, saya manusia biasa yang bisa juga malas.

Namun setidaknya kita hari ini berniat akan mempertahankan amalan yang kita tambah selama adanya wabah ini, apalagi ditambah moment Ramdhan yang pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah swt, mestinya kita semakin tambah rasa syukur kita kepada Allah dan jelaskan secara sederhana kepada anak kita bahwa moment adanya wabah dan ramadhan dapat mendidik kita untuk lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepada kita, yang mana ketika kita diminta menghitung maka kita tidak akan pernah mampu. Allah maha besar.

 

  1. Pendidikan Jasmani

Sungguh pendidikan jasmani tidak banyak yang memperhatikan, baik dirumah dan sekolah. Sayapun tidak begitu maksimal dalam mendidik jasmani anak – anak saya selama ini. Namun sekali lagi bahwa adanya wabah ini mampu mendidik saya untuk lebih memperhatikan pendidikan jasmani anak – anak saya. Kebanyakan yang diperhatikan orangtua soal jasmani adalah memenuni kebutuhan perut mereka yaitu makanan. Jarang orang tua yang mengajak anak – anaknya untuk berolahraga pagi; sekedar joging, bersepeda, senam sederhana dan lain sebagianya.

Jujur, selama saya aktif bekerja sebelum adanya wabah saya hanya melakukan tiga hal itu (bersepeda, senam sederhana dan joging) itupun kadang juga libur karena suatu hal. Selama masa wabah ini saya tambah gerakan senamnya untuk melatih otot – otot mereka, lari – lari walau dirumah dengan jarak 6 meter bolak-balik sebanyak 25 kali, bermain badminton, basket mini, terkadang main sepak bola sederhana dihalaman rumah.

Tidak ketinggalan saat ramadhan, agar pagi tidak mengantuk, maka baiknya dialihkan untuk olahraga ringan yang sekiranya tidak menguras tenaga yang banyak, namun badan tetap bugar. Bahkan ada yang berpendapat saat anak – anak libur sebelum dzuhur baiknya aktivitas fisik, sehingga bakda dzuhur mengantuk dan tidur, setelah bangun tidur mandi dan sholat ashar atau sebaliknya, maka badan akan tetap segar dan menjadikan puasa betah hingga waktu maghrib. Selamat mencoba.

Sukoharjo, 24 April 2020